5 Mitos Kesehatan Mental yang Beredar di Indonesia

Kesehatan adalah salah satu faktor utama yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan sehatnya tubuh kita, kita dapat melakukan berbagai aktifitas, namun disaat tubuh atau kondisi kita sedang melemah, maka kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Kesehatan bisa dibagi menjadi dua, ada kesehatan fisik dan ada kesehatan mental. Kesehatan fisik adalah kesehatan yang ditandai dengan kondisi tubuh bugar dan berfungsi secara normal sehingga mampu melakukan aktivitas sehari-hari, contoh kecil gangguan kesehatan fisik ialah demam, sakit kepala, dan gangguan lainnya yang mengakibatkan tubuh tidak bugar. Sedangkan kesehatan mental adalah kesehatan yang berasal dari pikiran dan perasaan orang tersebut, penyakit ini tidak bisa dilihat oleh orang lain, karena berasal dari pikiran dan perasaan orang tersebut, tapi jikalau kalian adalah teman dekatnya, kemungkinan besar kalian bisa memahami teman kalian yang sedang memiliki gangguan dalam kesehatan mental mereka. Namun, tahukah anda bahwa di indonesia ini ada berbagai penyakit mitos yang sering orang-orang utarakan dan tidak sesuai fakta melainkan hanya mereka buat-buat saja. Berikut 5 Mitos Kesehatan Mental yang beredar di Indonesia

1. Depresi itu hanya perasaan sedih

Sedih adalah perasaan biasa yang dapat berlaku sebentar dan berganti dengan perasaan lain, berbeda dengan depresi, bedanya depresi dan sedih, depresi lebih tertuju kepada pemikiran yang dalam yang terus menerus yang di ditemani kesedihan dan penyesalan yang panjang yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Ada banyak macam depresi tergantung dari perilaku kita saat sedang depresi contohnya susah tidur atau kurang selera makan

Perbedaan depresi dan sedih dapat dilihat dari:

  • Faktor pemicu yang berbeda

Kita merasa sedih jika terjadi hal yang menyedihkan yang jelas seperti kabar buruk dan sebagainya namun Orang yang depresi cenderung akan merasa sedih atau hampa setiap waktu, meski tidak ada peristiwa tertentu yang menimpanya.

  • Dampaknya terhadap kualitas hidup

perasaan sedih biasanya bersifat sementara dan akan menghilang seiring waktu ketika peristiwa sulit terlewati atau hanya dengan melakukan hal yang menyenangkan. Sedangkan depresi dapat mempengaruhi pikiran, emosi, persepsi, dan perilaku seseorang secara menetap. Orang yang mengalami depresi akan merasa kurang berenergi, tidak termotivasi, dan hampa. Perasaan tersebut bisa dirasakan cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, dan produktivitas.

  • Gejala depresi lebih berat dari sekedar perasaan sedih

Ketika sedih, seseorang cenderung meluapkannya dengan menangis atau menyendiri sementara waktu hingga perasaan sedih tersebut hilang. Berbeda dengan perasaan sedih biasa, gejala depresi bisa dirasakan terus menerus dan berkepanjangan.

  • Penanganan depresi dan rasa sedih berbeda

Depresi dan rasa sedih memang dua hal yang saling terkait, tetapi keduanya tetap tidak sama. Sedih adalah bagian dari depresi, tetapi perasaan sedih ini umumnya bersifat sementara. Sedangkan depresi adalah penyakit yang tidak akan membaik jika tidak diobati.

2. Anak anak tidak mengalami masalah kesehatan mental

Faktanya anak-anak yang sangat muda dapat menunjukkan tanda-tanda peringatan dini masalah kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini sering didiagnosis secara klinis, dan dapat menjadi produk dari interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Setengah dari semua gangguan kesehatan mental menunjukkan tanda-tanda pertama sebelum seseorang berusia 14 tahun, dan tiga perempat dari gangguan kesehatan mental dimulai sebelum usia 24.

Sayangnya, kurang dari 20% anak-anak dan remaja dengan masalah kesehatan mental yang dapat didiagnosis menerima perawatan yang mereka butuhkan. Dukungan kesehatan mental dini dapat membantu anak sebelum masalah mengganggu kebutuhan perkembangan lainnya.

3. Masalah kesehatan mental dapat disebabkan oleh lemahnya personalitas

Masalah kesehatan mental tidak ada hubungannya dengan menjadi malas atau lemah dan banyak orang membutuhkan bantuan untuk menjadi lebih baik. gangguan mental sering kali dianggap sebagai kekurangan, padahal sebenarnya merupakan penyakit atau gangguan kesehatan. layaknya penyakit pada umumnya, gangguan mental perlu pelayanan medis dan layak. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental, termasuk:

  • Faktor biologis, seperti gen, penyakit fisik, cedera, atau kimia otak
  • Pengalaman hidup, seperti trauma atau riwayat pelecehan
  • Riwayat keluarga akan masalah kesehatan mental

4. Terapi dan pertolongan terhadap diri sendiri hanya buang buang waktu saja

Perawatan untuk masalah kesehatan mental sangat bervariasi, tergantung pada individu dan dapat termasuk obat, terapi, atau keduanya. Banyak orang bekerja dengan sistem pendukung selama proses penyembuhan dan pemulihan.

Menemui psikoterapi juga memiliki manfaat. Dikenal juga sebagai “terapi berbicara”, metode perawatan ini menolong pasien untuk mengenali masalah mereka, mengerti perasaan mereka, menerima kelebihan dan kelemahan mereka, dan membuat mereka berpikir positif terhadap diri sendiri dan juga masalah yang dihadapi. Pada intinya, psikoterapi terdiri dari komunikasi lisan dan non-lisan yang berguna untuk meringankan kesulitan psikologis.

Psikoterapi terbukti dapat membantu mengobati banyak masalah psikologis. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 75% pasien yang sangat tertolong dengan menjalani psikoterapi. Metode ini juga sangat membantu mereka yang sedang mengalami krisis atau perubahan hidup yang tidak diinginkan. 

5. Tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap orang yang mengalami masalah kesehatan mental

Teman dan orang yang dicintai dapat membuat perbedaan besar. Hanya 44% orang dewasa dengan masalah kesehatan mental yang dapat didiagnosis dan kurang dari 20% anak-anak dan remaja menerima perawatan yang diperlukan. Bahkan Menurut WHO, banyak penderita gangguan mental tidak mau mencari bantuan karena malu dan takut dianggap aneh. Teman dan keluarga dapat menjadi pengaruh penting untuk membantu seseorang mendapatkan perawatan dan layanan yang mereka butuhkan dengan:

  • Membantu mereka mengakses layanan kesehatan mental
  • Belajar dan berbagi fakta tentang kesehatan mental
  • Membenarkan jika mendengar kesalahan
  • Memperlakukan mereka dengan hormat, sama seperti Anda terhadap orang lain
  • Menolak untuk mendefinisikannya dengan diagnosa mereka atau menggunakan label seperti “gila”

One thought on “5 Mitos Kesehatan Mental yang Beredar di Indonesia

Komentar

%d blogger menyukai ini: